Breaking News
NEWS  

Taruna Ikrar Dorong Kepemimpinan Polri Berbasis Healthy Brain, Logika Ilmiah, dan Kemanusiaan

JAKARTA – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. Dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., memaparkan konsep Neuroleadership di hadapan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Lemdiklat Polri.

Dalam kuliah tersebut, Taruna Ikrar menegaskan bahwa kepemimpinan masa depan tidak lagi cukup bertumpu pada kewenangan dan pengalaman semata, tetapi harus dibangun di atas pemahaman ilmiah mengenai cara kerja otak manusia agar mampu melahirkan pemimpin yang adaptif, rasional, humanis, dan berintegritas.

Menurut Taruna Ikrar, perkembangan ilmu neurosains telah melahirkan pendekatan baru dalam kepemimpinan modern yang dikenal sebagai Neuroleadership, yaitu pendekatan kepemimpinan yang memanfaatkan pemahaman tentang fungsi otak dalam mengelola emosi, mengambil keputusan, membangun kolaborasi, serta memimpin perubahan di tengah dunia yang semakin kompleks.

Konsep tersebut telah ia tuangkan dalam dua bukunya, Ilmu Neurosains Modern (2015) dan Gagasan Indonesia Modern Berbasis Neuroleadership.

“Transformasi kepemimpinan harus dimulai dari transformasi diri. Seorang pemimpin yang mampu mengelola pikirannya akan mampu mengelola organisasi, dan pada akhirnya membawa perubahan bagi bangsa,” ujar Taruna Ikrar.

Ia menjelaskan terdapat empat pesan utama Neuroleadership. Pertama, transformasi dimulai dari kesadaran untuk mengubah diri sendiri sebelum mengubah organisasi.

Kedua, kepemimpinan berbasis neurosains tetap menempatkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai inti, karena tujuan utama kepemimpinan adalah menghadirkan kasih, empati, dan kebermanfaatan.

Ketiga, neuroleadership memberikan fondasi kognitif dan emosional bagi pemimpin untuk menghadapi kompleksitas era digital. Keempat, pendekatan ini menjadi bekal penting bagi Indonesia dalam menghadapi bonus demografi, transformasi digital, dan kompetisi global melalui pembangunan sumber daya manusia yang memiliki otak sehat, logika ilmiah, dan karakter kuat.

Dalam paparannya, Taruna Ikrar juga menguraikan lima karakter utama pemimpin berbasis neurosains, yakni memiliki growth mindset atau pola pikir bertumbuh, kecerdasan emosional yang baik, kemampuan mengambil keputusan secara bijaksana berdasarkan data dan pengalaman, semangat belajar sepanjang hayat melalui prinsip neuroplastisitas, serta kepemimpinan transformasional yang mampu menginspirasi perubahan dan membangun budaya organisasi yang sehat.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Neuroleadership dibangun di atas empat prinsip utama, yaitu self-regulation untuk mengendalikan emosi dan berpikir reflektif, mindfulness agar mampu menghadirkan kesadaran penuh dalam setiap situasi, empathy-based leadership untuk membangun hubungan yang harmonis dan saling percaya, serta decision based on logic, yakni kemampuan mengambil keputusan secara rasional berdasarkan fakta dan bukti ilmiah.

Taruna Ikrar juga mengajak para mahasiswa STIK memahami pentingnya menjaga kesehatan otak sebagai modal utama kepemimpinan. Ia menjelaskan bahwa otak merupakan pusat pengendali seluruh aktivitas manusia yang terdiri atas ratusan miliar neuron dengan jejaring sinaps yang sangat kompleks.

Kemampuan otak untuk terus berkembang melalui mekanisme neuroplastisitas memungkinkan setiap individu meningkatkan kualitas berpikir, memperbaiki perilaku, dan mengembangkan kapasitas kepemimpinannya sepanjang hayat melalui proses belajar dan pengalaman.

Menurutnya, plastisitas otak terdiri atas tiga mekanisme utama, yaitu plastisitas sinaptik yang membentuk jejaring saraf baru melalui pembelajaran, neurogenesis yang memungkinkan terbentuknya sel-sel saraf baru untuk menggantikan sel yang rusak, serta kompensasi fungsional yang memungkinkan seseorang tetap memiliki performa tinggi meskipun bertambah usia.

Hal tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan hanya ditentukan oleh bakat, tetapi juga dapat terus dikembangkan melalui pembelajaran yang berkelanjutan.

Pada kesempatan tersebut, Taruna Ikrar juga mengingatkan bahwa Indonesia sedang menghadapi perubahan besar pada tingkat global.

Pertumbuhan penduduk dunia, urbanisasi, pergeseran pusat ekonomi menuju Asia, perkembangan perdagangan internasional, transformasi sistem keuangan global, meningkatnya kelas menengah, persaingan sumber daya alam, perubahan iklim, revolusi teknologi berbasis kecerdasan buatan, hingga dinamika geopolitik merupakan tantangan yang harus diantisipasi sejak dini.

“Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu berpikir ilmiah, mengendalikan emosi, cepat beradaptasi terhadap perubahan teknologi, sekaligus tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Neuroleadership memberikan fondasi tersebut sehingga pemimpin tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan bijaksana dalam setiap keputusan,” tegas Taruna Ikrar.

Kuliah umum tersebut mendapat antusiasme tinggi dari para mahasiswa STIK Lemdiklat Polri. Melalui pemaparan berbasis ilmu pengetahuan dan pengalaman praktis, Taruna Ikrar berharap lahir generasi pemimpin Polri yang profesional, adaptif, berintegritas, serta mampu menjawab tantangan Indonesia Emas 2045 dengan kepemimpinan yang berakar pada ilmu pengetahuan, karakter, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *